Menteri Jumhur: Pengelolaan Sampah Berpotensi Menghasilkan Omzet Miliaran Rupiah

oleh
oleh

SEMSITV.COM – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa sampah tidak lagi boleh dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja hijau. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, pengolahan sampah organik menjadi pelet pengganti batu bara dapat menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah per bulan. Gagasan tersebut disampaikan Menteri Jumhur saat berdialog dengan Forum Swakelola Sampah Bali (FSSB) di Nusa Dua, Bali.

“Jadi nanti bila ada investor yang mau mengolah sampah jadi bisnis, kemudian hasil mengolah sampah itu menghasilkan uang, bapak-bapak di Forum Swakelola Sampah Bali bisa kebagian juga pendapatan dari keuntungan kegiatan ekonomi mengolah sampah tadi,” ujar Menteri Jumhur.

Menteri Jumhur menjelaskan, potensi tersebut dapat dimulai dari pengelolaan sekitar 2.000 ton sampah per hari yang berasal dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan sampah organik yang dapat diolah menjadi sekitar 300 ton pelet pengganti batu bara per hari.

“Pembeli produk pelet batu bara dari sampah ini mengantre. Berarti 300 ton sehari, bila dikalikan satu bulan menjadi sekitar 9.000 ton. Pembelinya sudah ada, yaitu PLN,” kata Menteri Jumhur.

Menurutnya, dengan asumsi harga pelet setara harga batu bara sekitar 70 dolar AS per ton, produksi sekitar 10.000 ton per bulan dapat menghasilkan omzet sekitar 700 ribu dolar AS atau lebih dari Rp12 miliar rupiah setiap bulan.

“Nah itu tinggal dikurskan ke rupiah berarti Rp12 miliar lebih pendapatannya per bulan. Padahal ongkos produksi untuk membuat pelet batu bara itu sangat murah, cuma bikin dari sampah doang,” tutur Menteri Jumhur.

Baca Berita lainnya :  Sheila Maharani Putri, Atlet Muda yang Ingin Menginspirasi Lewat Kolaborasi dengan SMSI

Menteri Jumhur menambahkan, tantangan berikutnya adalah menghadirkan investor atau badan usaha yang bersedia membangun fasilitas produksi pelet di dekat lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sementara pemerintah daerah memastikan ketersediaan bahan bakunya.

Menanggapi gagasan tersebut, Ketua Forum Swakelola Sampah Bali, I Wayan Suarta, menyatakan FSSB siap menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah di Bali. “Kami mendukung penuh kebijakan Pemerintah Pusat dalam menghentikan praktik open dumping TPA dan mempercepat transformasi pengelolaan sampah menuju sistem yang lebih modern dan berkelanjutan,” terang I Wayan Suarta.

FSSB yang mewakili sekitar 250 pelaku usaha pengangkutan sampah dengan sekitar 700 armada juga menyampaikan komitmennya untuk mengedukasi masyarakat agar mulai memilah sampah dari sumber. Selain itu, FSSB berharap pemerintah dapat memperkuat dukungan melalui pembiayaan investasi armada, peremajaan truk, serta pembentukan forum koordinasi pengelolaan sampah yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.