SEMSITV.COM – Khairul Hasyim Haloho, guru Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, punya sebuah pengalaman berkesan saat menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.
Salah satu muridnya, Muhammad Risky Pratama, memeluknya dari belakang dan dengan penuh ketulusan mengucapkan terima kasih karena sudah diajari membaca sampai lancar.
Pelukan sederhana itu sangat berarti bagi Khairul. Setelah melalui proses belajar, akhirnya ia melihat sendiri Risky mampu membaca dengan lancar.
“Dia sambil menangis, meneteskan air mata, sambil datang ke kita. Dipeluknya dari belakang (Risky mengucapkan)’Pak, terima kasih, saya sudah bisa membaca sekarang’,” ujar Khairul, dikutip pada Jumat (14/8).
Muhammad Risky Pratama, bocah 12 tahun asal Labuhan Deli, Medan, sebelumnya adalah anak yang sempat putus sekolah dan belum lancar membaca.
Risky adalah salah satu penerima manfaat program Sekolah Rakyat yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8).
Hidup jauh dari orang tua, tumbuh dalam pengasuhan neneknya di tengah keterbatasan, Risky harus bekerja sebagai penjual ikan keliling sejak berusia 9 tahun.
Risky kembali ke bangku sekolah setelah Nanda, seorang Petugas Penjangkau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, mendatangi tempat tinggalnya. Nanda mengajak Risky untuk masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan.
Dengan dukungan sang nenek yang ingin cucunya mengejar cita-cita menjadi tentara, akhirnya Risky masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan.
Dari seorang anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di jalan untuk berjualan ikan, Risky kembali menikmati proses belajar dan tumbuh bersama teman-temannya.
Saat pertama masuk Sekolah Rakyat, Risky belum lancar membaca. Tetapi ia punya keinginan kuat. Lingkungan sekolah pun mendukungnya, mulai dari guru hingga teman-teman Risky di asrama.
“Guru itu banyak yang mendukung dia. Di asrama didukung, motivasinya di sekolah juga dibantu. Pelan-pelan kita ajari Risky. Keinginan membacanya itu sangat kuat. Ada program 15 menit membaca sebelum tidur (di asrama). Jadi teman-temannya (di asrama) tadi mendampingi Risky selama 15 menit belajar membaca,” Khairul menuturkan.
Berkat dukungan dari lingkungan sekolah, Risky akhirnya bisa membaca. “Dulu saya enggak bisa membaca, sekarang saya pandai baca karena diajari,” kata Risky.
Tak hanya jadi pandai membaca, perilaku dan tumbuh kembang Risky juga menjadi lebih baik sejak masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan.
“Terima kasih kepada pendampingnya yang mengajari. (Risky) Jadi santun, sopan, akhlaknya,” kata Masyita, nenek Risky.
Datang dengan tubuh yang kurus, kini berat badan Risky mulai meningkat seiring terpenuhinya kebutuhan makan dan pendampingan di Sekolah Rakyat.
Di Sekolah Rakyat, Risky menemukan kembali haknya untuk belajar, tumbuh, dan menata cita-cita.
Bukan sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat juga menjadi jalan bagi Risky untuk mewujudkan mimpi yang selama ini ia simpan.





