Dari Bankir ke Aktivis Hijau: Jejak Dr. Agus Syabarrudin untuk Bumi Berkelanjutan

oleh
oleh

Dr. Agus Syabarrudin M.Si, merupakan wujud sintesis langka dari dua dunia yang sering dianggap berseberangan: sektor ekonomi-perbankan dan pelestarian lingkungan hidup. Jauh sebelum isu Environmental, Social, and Governance (ESG) dan green financing menjadi diskursus utama di dunia korporasi, panggilan jiwanya terhadap bumi dan kemanusiaan telah mengakar kuat.

 

Langkah nyata kepedulian tersebut dimulai pada masa mudanya. Bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa UIN Jakarta, pada tanggal 21 Maret 1987, ia turut membidani lahirnya KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batutah). Dedikasi awalnya langsung diuji di lapangan saat ia menjadi bagian dari tim ekspedisi pertama, Expedisi Sang Bumi Ruwa Jurai 1987, sebuah misi kemanusiaan yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat pedesaan di Provinsi Lampung. Pengalaman ini menanamkan ikatan batin yang tak terhapuskan antara dirinya, alam, dan masyarakat akar rumput.

 

Selama lebih dari tiga dekade, Dr. Agus mendedikasikan diri di dunia perbankan dan keuangan, menduduki posisi puncak sebagai Chief Executive Officer (CEO) di Bank Kalsel dan Bank Banten, serta Executive Vice President di PT Bank JTRUST Indonesia, dan saat ini mengabdi sebagai Senior Executive Advisor di Fundbridge Globalink Investa. Namun, gemerlap dunia finansial tidak pernah memadamkan api idealismenya. Sebaliknya, ia menyadari bahwa untuk memberikan dampak perbaikan lingkungan yang fundamental, kekuatan ekonomi dan ekologi harus disatukan.

 

Konsistensi ini tercermin nyata dalam perjalanan akademisnya. Dalam menempuh pendidikan Doktoral (S3) Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin—yang diselesaikannya dengan predikat cum laude—ia tidak hanya berfokus pada teori, tetapi pada solusi nyata bagi kemanusiaan. Disertasinya secara spesifik membedah implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh bantaran sungai di Kota Banjarmasin. Penelitian ini membuktikan keberpihakannya pada keadilan sosial dan lingkungan bagi kelompok marginal.

Baca Berita lainnya :  Rahim Tenang, Anak Bahagia: Pentingnya Menjaga Emosi Ibu Selama Kehamilan

 

Di luar ranah korporasi dan akademik, Dr. Agus aktif mewujudkan regenerasi kepedulian melalui aksi lapangan. Dr. Agus yang juga sebagai Wakil Ketua Dewan Pakar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) turut memfasilitasi anak-anak muda untuk terjun langsung ke sektor agribisnis berkelanjutan di Pondok Pesantren Hayatusyarif, Sukabumi. Melalui inisiatif ini, ia membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian bagi generasi muda, sekaligus memastikan bahwa nilai-nilai pelestarian alam tetap lestari di tangan pemimpin masa depan.

 

Kombinasi antara pengalaman mengelola kapital besar dengan pemahaman mendalam tentang ekosistem menghasilkan keyakinan teguh: ekonomi dan lingkungan adalah dua hal yang wajib disinergikan. Visi inilah yang kini ia wujudkan sebagai Ketua APZEKI, dengan mendorong praktik ekonomi berkelanjutan, perdagangan karbon, dan pembiayaan hijau. Keahliannya ini juga membawanya dipercaya oleh Lembaga Pengelola Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk bergabung dalam Tim Kerja Green Wakaf MUI sebagai Komite Pengembangan Wakaf Produktif dan Keberlanjutan, sebuah peran yang menyelaraskan instrumen keuangan syariah dengan pelestarian lingkungan jangka panjang.

 

Kini, melalui kanal YouTube pribadinya serta APZEKI, Dr. Agus berkomitmen menyebarluaskan literasi inklusif mengenai lingkungan hidup, perubahan iklim, dan kemanusiaan. Dr. Agus membawa semangat yang sama sejak mendirikan KMPLHK RANITA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di tahun 1987—sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa kepedulian bukanlah sebuah fase, melainkan sebuah jati diri yang konsisten.***

No More Posts Available.

No more pages to load.