SEMSITV.COM – Menjaga bumi bukan berarti menghentikan pertumbuhan ekonomi. Justru, melalui pemulihan lingkungan, Indonesia memiliki peluang menciptakan sumber ekonomi baru yang memberi manfaat bagi alam sekaligus masyarakat. Salah satunya melalui mangrove yang kini menjadi simbol pertemuan antara kelestarian lingkungan dan peluang ekonomi masa depan. Pesan tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, dalam puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Pelabuhan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Kota Denpasar.
Menurut Menteri Jumhur, pemulihan lingkungan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga dapat menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan hijau (green jobs), serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam menjaga ekosistem. Menteri Jumhur menjelaskan, mangrove memiliki kemampuan yang sangat besar dalam menyerap karbon. Bahkan, kemampuan penyerapan karbon mangrove disebut mencapai empat hingga lima kali lebih kuat dibandingkan tanaman lainnya.
“Saat ini di seluruh dunia emisi global terus meningkat yang terjadi karena kegiatan ekonomi. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengurangi karbon. Sehingga karbon tersebut harus di-offset atau dikompensasi dengan banyaknya paru-paru di bumi agar bisa menghisap karbon tadi. Kegiatan mengurangi karbon itulah yang menjadi potensi ekonomi bisnis. Wajar kalau kita sekarang sangat serius dan peduli menanam mangrove,” kata Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur mengungkapkan, selama ini kegiatan penanaman mangrove masih banyak dilakukan melalui dukungan pemerintah. Namun ke depan, upaya tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan investor sebagai bagian dari kegiatan ekonomi berbasis lingkungan.
Melalui mekanisme pasar karbon, kawasan mangrove yang dipulihkan dapat menghasilkan nilai ekonomi dari kemampuan menyerap karbon. Pada saat yang sama, masyarakat lokal yang terlibat dalam penanaman dan pemeliharaan mangrove juga menjadi bagian penting dalam rantai manfaat ekonomi tersebut.
“Lalu ketika karbon itu dijual, mereka (pekerja tapak-warga lokal) juga akan mendapatkan benefit sharing dari hasil penjualan karbon tersebut. Jadi menanam mangrove adalah kegiatan yang menguntungkan,” kata Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur menambahkan, KLH/BPLH saat ini terus menghitung potensi ekonomi dari kegiatan menjaga, memelihara, dan memulihkan lingkungan melalui mekanisme pasar karbon. Ke depan, gerakan pemulihan lingkungan diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan hijau.
Sementara itu, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, juga mendorong pengembangan skema perdagangan karbon di kawasan mangrove dengan melibatkan masyarakat agar manfaat ekonomi dari pengelolaan lingkungan dapat kembali dirasakan oleh warga sekitar.
“Kami mendorong banyak skema perdagangan karbon di kawasan mangrove yang melibatkan masyarakat sehingga benefit-nya juga kembali kepada masyarakat,” ungkap Wamen Rohmat.
Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan. Melalui pemulihan mangrove, Indonesia tidak hanya menjaga benteng alami pesisir, tetapi juga membangun peluang ekonomi hijau yang melibatkan masyarakat sekitar.





