Peserta Wirasena Youth Camp 2026 Petik Pelajaran dari Film Budi Pekerti, Waspada Bahaya Viral di Media Sosial

oleh
oleh

SEMSITV.COM – Sebuah unggahan yang dianggap sepele di media sosial bisa berubah menjadi badai yang menghancurkan reputasi, karier, bahkan kehidupan seseorang. Pesan itulah yang membekas bagi peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 setelah menyaksikan film Budi Pekerti di Hotel Artotel, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (23/10).

Film garapan sutradara Wregas Bhanuteja tersebut menjadi bahan refleksi bagi para peserta tentang pentingnya literasi digital, kemampuan memilah informasi, hingga menjaga empati di tengah derasnya arus informasi.

Aisyah Salsabila, peserta asal Kalimantan Tengah, mengaku terkesan karena film tersebut menggambarkan realitas kehidupan masyarakat di era digital. Menurutnya, kemudahan mengakses informasi belum tentu diiringi kemampuan memahami dan menyaring informasi secara tepat.

“Di film ini kita jadi tahu bahwa ternyata banyak orang masih minim literasi digital. Mereka belum tahu bagaimana membedakan fakta, opini, atau asumsi,” ujar Aisyah saat menyampaikan kesannya di hadapan peserta WYC 2026.

Ia menilai, sesuatu yang terlihat biasa bagi pengguna media sosial bisa menjadi persoalan besar bagi orang yang menjadi sasaran. Dampaknya bahkan dapat merembet ke kehidupan pribadi hingga pekerjaan korban.

Aisyah pun mengingatkan agar masyarakat tidak mudah meremehkan dampak perundungan dan penghakiman di ruang digital hanya karena merasa persoalan tersebut tidak terlalu serius.

“Kalau kita melihat di media sosial, mungkin kita berpikir itu biasa saja. Namun, bagi korbannya, hal tersebut benar-benar memengaruhi kehidupan mereka,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Royhan, peserta asal Sulawesi Tenggara. Baginya, film Budi Pekerti memiliki relevansi kuat dengan kehidupan generasi muda yang tidak terpisahkan dari media sosial.

Royhan bahkan pernah mengangkat film tersebut sebagai objek tugas akhirnya dengan judul ‘Representasi Sisi Gelap Media Sosial dan Literasi Digital dalam Film Budi Pekerti Menggunakan Analisis Semiotika Roland Barthes’.

Baca Berita lainnya :  Prof. Abdul Latif: PERADI PROFESIONAL Dorong Reformasi PPA dan Pengawas Advokat Independen

Pengalaman akademiknya membuat Royhan melihat film tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan juga pengingat tentang konsekuensi dari perilaku pengguna media sosial.

Ia menyoroti bagaimana opini yang berkembang tanpa pemahaman utuh dapat menghancurkan reputasi dan karier seseorang. Ketika informasi menyebar luas, masyarakat kerap terburu-buru memberikan penilaian tanpa memahami konteks yang sebenarnya.

Karena itu, Royhan mengajak generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang sedang ramai diperbincangkan.

“Kita sebagai orang-orang yang menggunakan media sosial seharusnya bijak menggunakan media sosial. Tidak gampang terprovokasi oleh opini-opini, seperti yang kita pelajari hari ini, yaitu fakta, opini, dan asumsi,” tuturnya.

Lebih dari sekadar berhati-hati dalam menyebarkan informasi, ia menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan ketika berhadapan dengan sesuatu yang viral.

“Budi pekerti itu seharusnya tidak boleh membuat kita menurunkan empati, idealisme, dan prinsip kita hanya karena sebuah hal viral di media sosial,” tegas Royhan.

Anindita, peserta dari Jawa Tengah, juga melihat bagaimana persoalan yang awalnya tampak sederhana dapat berkembang menjadi masalah serius ketika masuk ke ruang digital.

Menurutnya, masyarakat sering kali hanya melihat sebuah peristiwa dari potongan informasi yang beredar. Padahal, ada orang yang harus menghadapi dampak nyata dari penilaian publik tersebut.

Ia menilai, pengalaman tokoh dalam film Budi Pekerti menjadi pengingat bahwa komentar dan reaksi warganet tidak selalu berhenti di layar ponsel.

“Buat kita, sesuatu yang viral di media sosial mungkin hanya menjadi tontonan. Namun, bagi orang yang mengalaminya, hal itu bisa menimbulkan stres dan dampak yang jauh lebih besar, bahkan sampai kehilangan pekerjaan,” ujar Anindita.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi generasi muda agar lebih berhati-hati sebelum ikut menyebarkan informasi atau memberikan komentar terhadap persoalan orang lain.

Baca Berita lainnya :  Paket Stimulus Ekonomi Semester II Tahun 2026: Pemerintah Berikan Insentif Bea Masuk 0% untuk Impor Suku Cadang MRO dan LPG bagi Industri Petrokimia

Sementara itu, Fauzan Budi, peserta asal Jawa Timur, menyoroti sisi lain dari film tersebut, yakni peran dan tantangan yang dihadapi guru.

Baginya, Budi Pekerti tidak hanya berbicara tentang media sosial, tetapi juga mengajak penonton untuk melihat guru sebagai sosok yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan mencerdaskan bangsa.

Fauzan menilai, profesi guru kerap dihadapkan pada berbagai tuntutan dan beban pekerjaan. Karena itu, masyarakat perlu lebih menghargai peran mereka, alih-alih terburu-buru menghakimi ketika muncul persoalan yang melibatkan seorang pendidik.

“Namanya budi pekerti, guru itu harus digugu dan ditiru. Jasanya besar untuk mencerdaskan bangsa,” ungkapnya.

Pandangan para peserta tersebut memperlihatkan bahwa film dapat menjadi medium pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui cerita yang ditampilkan, peserta diajak melihat persoalan media sosial dari berbagai sudut pandang, termasuk dari sisi orang yang terdampak.

Pemutaran film Budi Pekerti dalam rangkaian WYC 2026 menjadi momentum bagi peserta untuk merefleksikan materi literasi digital yang mereka pelajari, terutama mengenai perbedaan fakta, opini, dan asumsi.

Pesan yang dipetik para peserta pun sederhana, tetapi penting: jangan terburu-buru menghakimi, jangan mudah terprovokasi, dan jangan kehilangan empati hanya karena sebuah persoalan sedang viral.

Bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi, menjadi pengguna media sosial yang cerdas bukan hanya soal mampu mengakses informasi, melainkan juga tentang tanggung jawab dalam mengolah, menyebarkan, dan meresponsnya.

Melalui refleksi tersebut, WYC 2026 turut mengingatkan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan budi pekerti di era digital.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.