PMMBN Lampung, Bergerak Perlahan Namun Berdampak

oleh
oleh

SEMSITV.COM – Di tengah keterbatasan anggaran dan kegiatan, semangat anak-anak muda Pengurus Wilayah Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PW PMMBN) Lampung pantang surut. Sepanjang 2026, mereka menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan bisa tumbuh lewat inovasi, mulai dari sistem manajemen organisasi berbasis web hingga jurnal ilmiah khusus mahasiswa.

Dua inovasi itu menjadi momen yang paling berkesan bagi mereka. Pertama, Si-Morgan (Sistem Manajemen Organisasi), situs web untuk mengelola administrasi organisasi. Kedua, Garudaya (Garda Riset untuk Pemuda Berdaya), portal jurnal berbasis Open Journal Systems (OJS).

Keduanya lahir dan berangkat dari kegelisahan pengurus. Keduanya bukan dikembangkan dari ide yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin administrasi organisasi tertata dengan baik. Mereka juga melihat anggota belum punya wadah untuk mempublikasikan karya ilmiah, terutama kajian strategis tentang isu-isu mutakhir seperti moderasi beragama dan bela negara, serta apa yang dikenal sebagai narasi toleransi.

Dari Meja Kuliah ke Ruang Publik

Bagi PW PMMBN Lampung, terdapat keinginan kuat untuk mewarnai kancah literasi di kalangan mahasiswa. Oleh karenanya, Jurnal Garudaya Indonesia berangkat dari kesadaran bahwa banyak gagasan dan riset mahasiswa berhenti sebagai tugas akhir atau dokumen yang rapi tersimpan, dan PW PMMBN menolaknya.   

“Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu berdiri sebagai produsen karya ilmiah yang berdampak,” kata Ketua PW PMMBN Lampung Muhammad Hafiz Moniaga, Selasa (3/11/2026).

Saat ini Garudaya masih dalam tahap awal. Pengurus tengah menyiapkan infrastruktur digital, yakni portal web dan konfigurasi hosting OJS, sambil menyusun Rencana Strategis (Renstra) untuk memperjelas tata kelola publikasi. Karena itu, belum ada terbitan artikel. Targetnya, jurnal ini kelak memenuhi aspek legalitas organisasi dan standar akreditasi nasional.

Baca Berita lainnya :  MBG 3T Berpotensi Buka Pasar Baru bagi Petani dan Peternak Lokal

Terbitan nantinya akan mencakup empat bidang kajian: Sains dan Teknologi, Sosial-Humaniora, Bisnis dan Ekonomi, serta Pendidikan. Pembagian ini dirancang agar mahasiswa dari beragam disiplin ilmu bisa ikut menulis.

Manfaat yang diharapkan tidak hanya soal publikasi. Mahasiswa dapat belajar langsung tata kelola penerbitan ilmiah berstandar OJS, meningkatkan literasi akademik, dan mendapat ruang penghargaan bagi pemikiran kritis mereka. Portal jurnal dapat diakses di garudaya-id-iota.vercel.app, sedangkan Si-Morgan di bit.ly/Si-Morgan-PMMBN-Lampung.

Bela Negara Tidak Selalu Berarti Militerisme

Di luar inovasi digital, PW PMMBN Lampung rutin mengajak mahasiswa belajar moderasi beragama dan bela negara. Salah satu agenda yang paling berkesan adalah Sosialisasi Moderasi Beragama dan Bela Negara. Kegiatan ini melibatkan pengurus PW, perwakilan mahasiswa dari 15 komisariat di Lampung, dan menghadirkan Dewan Pembina Dr. Eka Kurniawati serta dosen-dosen Universitas Lampung (Unila) sebagai narasumber.

Antusiasme peserta terlihat cukup tinggi. Dengan Sosialisasi Moderasi Beragama dan Bela Negara ini mereka mengaku mendapat sudut pandang baru bahwa bela negara tidak selalu identik dengan militerisme. Bela negara juga bisa diwujudkan lewat sikap toleran, merawat persatuan di tengah keberagaman, dan memperkuat literasi digital di lingkungan kampus.

Bagi para pengurus, isu ini terus relevan. Arus informasi di era digital yang begitu cepat kerap membawa narasi intoleransi dan polarisasi identitas. “Mahasiswa sebagai agen perubahan membutuhkan filter moderasi beragama agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu SARA,” tutur Muhammad Hafiz Moniaga, Ketua PW PMBBN Lampung.

Kampus, yang mempertemukan beragam ideologi dan pemikiran, menurut Hafiz, rentan menjadi tempat tumbuhnya eksklusivisme bahkan ekstremisme jika pemahaman moderasi tidak dikuatkan. Oleh karena itu, pesan Moderasi Beragama perlu terus digaungkan melalui media sosial, seminar, dan kurikulum kampus.

Baca Berita lainnya :  UPA PERADI 2025 Wilayah Yogyakarta Digelar di Fakultas Hukum UGM

Tantangan terbesar menurut mereka adalah disinformasi, narasi provokatif, dan echo chamber di media sosial yang mudah menyulut prasangka. Menghadapi itu, PW PMMBN Lampung memilih pendekatan mendidik, dialogis, dan persuasive dengan memperkuat literasi digital dan berpikir kritis, membuka forum diskusi inklusif lintas latar belakang, serta memproduksi konten positif tentang kedamaian, toleransi, dan kebangsaan di platform digital organisasi.

Terus Bergerak

Soal semangat, pengurus menyebut lingkungan yang saling menguatkan sebagai “bahan bakar” utama. Mereka berpegang pada prinsip lebih baik berjalan perlahan daripada berhenti bergerak. Menurut mereka, langkah sekecil apa pun, jika dilakukan tekun dan bertahap, akan membawa pada pencapaian yang memuaskan.    

Kerja-kerja itu tidak berjalan sendirian. PW PMMBN Lampung bersinergi dengan Dewan Pembina (Dr. Fathur Rokhman dan Dr. Eka Kurniawati), Abi Erie, dan pimpinan pusat PMMBN. Di sektor akademik, mereka berkoordinasi dengan dosen Mata Kuliah Umum (MKU) Unila. Di tingkat basis, tiga komisariat utama, yaitu Komisariat Unila, ITERA, dan UNULA, menjadi penopang di akar rumput.

Hasilnya terasa pada kebersamaan. Menurut pengurus PW PBBN Lampung, rasa kekeluargaan antara pembina, pengurus, dan anggota semakin menguat, dan itu menjadi kekuatan utama untuk terus berkembang.

Kasubdit PAI pada PTU Khaerul Umam memberi acungan jempol atas inisiatif ini. “Direktorat PAI senantiasa membersamai, mendorong, dan memfasilitasi semangat dan inovasi mahasiswa yang tergabung dalam PMMBN. Kami berharap agar mekanisme yang dikembangkan mampu memberi warna positif dalam kancah kemahasiswaan yang sangat dinamis,” paparnya.

Tantangan dan Harapan

Perjalanan ini tentu bukan tanpa tantangan. PW PMMBN Lampung mengaku masih perlu memetakan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia internal. Mereka juga masih membangun relasi dengan pemangku kepentingan terkait, seperti Kementerian Agama Provinsi, Kesbangpol, dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

Baca Berita lainnya :  Peserta Wirasena Youth Camp 2026 Petik Pelajaran dari Film Budi Pekerti, Waspada Bahaya Viral di Media Sosial

Untuk itu, mereka berharap ada akses yang memudahkan komunikasi dengan para pemangku kepentingan tersebut, serta kehadiran dan dukungan langsung, termasuk kunjungan ke wilayah Lampung. Hal ini sebagaimana tekad yang disampaikan Kasubtim Bina Keagamaan Mahasiswa, Subdit PAI pada PTU Restu Suwasono. “Tekad kami, ada sebuah gagasan mendasar sebagai pedoman PMMBN ke depan, semacam peta jalan yang mampu menuntun langkah program dan kegiatan PMMBN. Kami terus mengolah dan mendesainnya. Hal sederhana tapi nyata sebagaimana yang ditunjukkan PW Lampung adalah bagian dari langkah yang kami maksud,” tukasnya.

Kepada pengurus PMMBN di wilayah lain, PW Lampung menitipkan lima pesan, yakni pertama, benahi sistem administrasi kesekretariatan dan pelaporan keuangan agar transparan dan akuntabel. Kedua, perkuat SDM di wilayah. Lebih baik sedikit tetapi berkualitas. Ketiga, bergerak perlahan lebih baik daripada berhenti dan tidak berdampak. Keempat, susun skala prioritas kegiatan untuk satu tahun ke depan. Kelima, miliki program kerja dengan hasil (outcome) yang jelas dan berkelanjutan, baik bagi anggota maupun organisasi. 

Dari Lampung, anak-anak muda ini menunjukkan bahwa menjaga kebhinekaan dan mencintai Indonesia bisa dimulai dari hal-hal yang dekat, seperti merapikan administrasi, menulis dengan nalar kritis, dan membuka ruang dialog mahasiswa di kampus.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.