Survival Guide Pejuang Transportasi Umum: Tetap Hemat di Tengah Tantangan Ekonomi

oleh
oleh

SEMSITV.COM – Kenaikan harga bahan bakar, tarif tol, dan biaya parkir membuat ongkos perjalanan harian membengkak. Pada kondisi tersebut, transportasi umum tentu menjadi pilihan yang semakin relevan untuk menekan pengeluaran dalam bermobilitas. Meski identik dengan kepadatan pada jam sibuk, para komuter justru memiliki berbagai strategi agar perjalanan tetap efisien, nyaman, sekaligus produktif.

Bagi Arif Ardiansyah, konten kreator transportasi umum sekaligus pengguna setia KRL Green Line (lintas Rangkasbitung–Tanah Abang), menggunakan transportasi umum bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi untuk mengelola pengeluaran sekaligus mengoptimalkan produktivitas waktu perjalanan.

“Kalau dibandingkan naik mobil, biaya bensin dan tol bisa sampai Rp120,000 sampai Rp150,000 untuk pulang-pergi dari Serpong ke Jakarta. Kalau naik kendaraan umum jadi lebih hemat. Misal simulasinya dari rumah ke stasiun itu naik motor, lanjut naik KRL, dan lanjut lagi naik angkot sampai kantor kurang lebih perhari cuma Rp24,000,” jelas Arif dalam podcast HubTalk episode 23, Selasa (30/6).

Rendahnya tarif yang dibayarkan masyarakat merupakan bentuk nyata dari kehadiran pemerintah. Berdasarkan penjelasan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Arif Anwar, tarif murah ini dimungkinkan oleh skema Public Service Obligation (PSO) yang merupakan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.

“Jadi ada tarif yang ditetapkan oleh operator berdasarkan peraturan tarif. Di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 itu disebutkan bahwa tarif yang ditetapkan oleh pemerintah lebih rendah dibandingkan dengan tarif yang ditetapkan oleh operator, maka selisih tarifnya itu harus ditanggung oleh pemerintah dalam hal kewajiban pelayanan publik,” terang Arif Anwar dalam podcast HubTalks episode 13.

PSO merupakan skema subsidi pemerintah yang menanggung selisih antara tarif yang ditetapkan oleh operator dan tarif yang dibayarkan masyarakat. Arif Anwar menjelaskan, jika tarif normal KRL Jabodetabek seharusnya adalah Rp7.000, namun karena disubsidi PSO sekitar 60%, masyarakat hanya perlu membayar Rp3.000. Di kereta antarkota pun, tarif ekonomi premium yang semula Rp200.000 – Rp400.000 bisa ditekan hingga menjadi Rp50.000 – Rp100.000 saja berkat PSO.

Baca Berita lainnya :  Di WEF Davos, Presiden Prabowo Akan Paparkan “Prabowonomics” dan Capaian Nyata Satu Tahun Pemerintahan

“Kalau secara umum bisa saya sampaikan kurang lebih sekitar 60% biaya yang ditanggung dengan PSO ya. Jadi tujuan utama PSO adalah untuk memberikan tarif yang bisa terjangkau oleh semua golongan masyarakat,” sambung Arif.

Meski demikian, menjadi komuter bukan berarti perjalanan selalu berjalan mulus. Jalur Green Line KRL yang menghubungkan Rangkasbitung hingga Tanah Abang dikenal sebagai salah satu lintas tersibuk di Jabodetabek. Kepadatan penumpang pada jam berangkat maupun pulang kerja pun menjadi “makanan sehari-hari” bagi para penggunanya.

Meski begitu, Arif Ardiansyah menilai kondisi tersebut bukan tanpa solusi. Ada sejumlah cara sederhana yang dapat membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

“Tips buat teman-teman. Kalau rumahnya di sekitar Cisauk, Parung Panjang, atau Serpong, bisa ambil kereta yang memang keberangkatannya dari Parung Panjang, Tigaraksa, atau Serpong. Kalau misal tadi saya naik kereta keberangkatan Parung Panjang, biasanya satu jam sekali yaitu jam 06.38, 07.38, dan kelipatan lainnya, biasanya lebih tidak padat dibanding kereta yang berangkat dari Rangkasbitung,” jelas katanya.

Menurut Arif, penumpang Green Line sudah maklum jika tidak mendapat tempat duduk. Fokus mereka bergeser, bukan lagi semata-mata untuk mendapatkan kursi, melainkan bagaimana caranya bisa masuk gerbong dan cukup berdiri dengan nyaman.

“Kalau buat pengguna Green Line, enggak duduk itu enggak masalah. Yang penting kita masih bisa berdiri dan memilih posisi berdiri yang nyaman. Kalau masuknya dari keberangkatan Parung Panjang atau Tigaraksa, kita masih bisa memilih tempat berdiri, jadi perjalanan lebih nyaman dan tetap bisa produktif,” ujarnya.

Produktivitas menjadi keuntungan lain yang dirasakan Arif selama menggunakan transportasi umum. Berbeda dengan mengendarai kendaraan pribadi yang menghabiskan lebih banyak waktu dan menuntut konsentrasi penuh di jalanan, perjalanan menggunakan KRL justru memberinya waktu untuk menyelesaikan berbagai aktivitas.

Baca Berita lainnya :  Setop Telan Mentah Narasi Medsos! Pakar Hukum Minta Publik Disiplin Baca Naskah Kerjasama RI–AS

“Selama di KRL saya bisa sambil mengedit video di handphone, nonton, atau mengerjakan hal lain. Jadi selain sambil nunggu bisa juga produktif kayak gitu,” katanya.

Efisiensi juga dimulai bahkan sebelum menaiki kereta. Sejak dua tahun terakhir, Arif memilih menggunakan sepeda untuk menuju stasiun. Selain lebih hemat, menurutnya fasilitas parkir sepeda di sejumlah stasiun kini sudah semakin memadai.

“Dari rumah saya naik sepeda ke stasiun, sepedanya dititip gratis di parkiran dan tinggal dikunci pakai gembok. Tempatnya sudah lebih proper dan aman, jadi lebih nyaman,” ujarnya.

Setibanya di stasiun tujuan, perjalanan dapat dilanjutkan dengan berbagai pilihan moda, mulai dari berjalan kaki, angkot, ojek daring, hingga Mikrotrans. Menurut Arif, memanfaatkan layanan Mikrotrans menjadi salah satu cara mengurangi biaya perjalanan.

Sementara itu, Executive Director of Transport for Jakarta, Adriansyah Yasin Sulaeman, menilai efisiensi biaya menjadi salah satu alasan kuat masyarakat mulai beralih ke transportasi umum, terutama di tengah meningkatnya biaya mobilitas menggunakan kendaraan pribadi.

“Kalau saya naik Transjakarta setiap hari, biaya pulang-perginya sekitar Rp7.000. Misal hari kerja, sebulan belum sampai Rp200,000. Itu solusi yang sangat efisien yang bisa diambil semua orang. Apalagi kalau first mile-nya tinggal jalan kaki atau sepedahan kaya saya yang hanya 0 rupiah,” ujarnya dalam podcast HubTalks, Selasa (30/6).

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan masih ada, terutama pada perjalanan awal dan akhir atau first mile dan last mile. Biaya menuju stasiun maupun dari stasiun ke tujuan akhir sering kali menjadi pertimbangan masyarakat sebelum memutuskan beralih dari kendaraan pribadi.

“Saat ini FDTJ (Forum Diskusi Transportasi Jakarta) selalu mencoba untuk mengajak orang lebih banyak pakai transportasi umum dari segi biayanya dulu. Misalnya naik transportasi umum tapi biaya ke stasiunnya malah mahal, otomatis orang-orang akan sulit pindah moda. Jadi solusi yang paling efektif memang dari pembiayaan dulu,” jelas Adriansyah.

Baca Berita lainnya :  Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Latgab Karimunjawa, Uji Kesiapan Tempur dan Sinergi TNI

Karena itu, ia mendorong masyarakat memanfaatkan moda pendukung seperti sepeda yang kini telah difasilitasi parkir di banyak stasiun.

“Sepeda jangan dilihat sebagai moda untuk olahraga saja. Sekarang banyak stasiun yang sudah menyediakan parkir sepeda yang aman yang memang ditujukan agar orang-orang mau shifting ke sepeda. Sehat dan gratis. Dengan adanya infrastruktur yang sudah disediakan tersebut, aku rasa cycling is a very good alternative buat kita jadikan sebagai first and last mile,” kata Adriansyah.

KAI Commuter sendiri selaku operator berupaya mengakomodir kebutuhan pengguna KRL, termasuk keberadaan fasilitas parkir, salah satunya dengan melaksanakan program penyediaan “Commuter Shelter Bike”. Fasilitas parkir sepeda gratis ini merupakan pembaruan dari tempat parkir lama demi meningkatkan standar keamanan dan kenyamanan setelah mengevaluasi beberapa kasus kehilangan sebelumnya.

Pembangunan shelter tersebut telah rampung di beberapa titik seperti Stasiun Depok, Lenteng Agung, dan Tebet, dengan Stasiun Rawa Buaya sebagai titik pembangunan terbaru yang akan segera disusul oleh belasan stasiun lainnya di wilayah Jabodetabek.

Selain itu, agar perjalanan semakin mudah dan praktis, masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi navigasi digital seperti Google Maps dalam membantu menyusun rute transportasi umum yang paling efisien.

“Kalau datang ke daerah baru, paling mudah tinggal buka Google Maps. Dari situ sudah kelihatan rute apa yang bisa dipakai, atau kalau masih bingung bisa langsung tanya petugas di stasiun,” tambah Arif.

Pada akhirnya, bagi para komuter, bertahan menggunakan transportasi umum bukan sekadar soal berpindah moda. Di tengah biaya hidup yang terus menjadi perhatian, setiap keputusan perjalanan juga menjadi bagian dari strategi mengelola pengeluaran. Dengan memahami pola perjalanan, memilih jadwal yang tepat, serta memanfaatkan waktu selama di perjalanan, transportasi umum tidak hanya membantu menghemat biaya, tetapi juga membuat perjalanan harian menjadi lebih efisien dan produktif.

No More Posts Available.

No more pages to load.