SEMSITV.COM – Pagi di Desa Purwosari, Ngawi, Jawa Timur, hampir selalu dimulai dengan aktivitas di sawah.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari pertanian, bekerja dari musim tanam hingga panen untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah kehidupan yang lekat dengan sawah itu, Joko Purnomo memilih tidak hanya memikirkan hasil panennya sendiri.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur itu justru berusaha agar keberhasilan yang diperolehnya bersama kelompok tani bisa kembali dirasakan masyarakat sekitar.
Salah satunya melalui sebuah depot air minum isi ulang yang bisa digunakan warga secara gratis.
Depot tersebut bukan dibangun dari keuntungan besar sebuah perusahaan, melainkan dari sisa hasil usaha (SHU) kios pupuk yang dikelola Joko bersama kelompok taninya.
“Alhamdulillah ini bentuk kepedulian daripada kelompok tani Sri Makmur bersama anggota-anggotanya. Kami menyediakan air bersih, ini hasil daripada usaha bersama dari SHU pupuk,” kata Joko, saat wawancara dengan Bakom RI, Jumat (14/8).
Bagi Joko, menyediakan air minum bagi warga merupakan cara sederhana untuk berbagi manfaat dari usaha yang selama ini mereka jalankan.
Terlebih, hampir seluruh warga di sekitarnya merupakan petani yang kehidupannya juga tidak jauh dari persoalan biaya produksi.
Sekitar 200 keluarga di Desa Purwosari memanfaatkan depot tersebut. Joko menyebut sekitar 80 persen warga mengambil air dari depot yang sengaja dibuat agar masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kebutuhan air minum.
“Jadilah (depot) air isi ulang untuk air minum warga sekitar sini. Alhamdulillah ini diambil 80 persen warga di sini. Dan ini gratis di sini, mau ngisi boleh, tidak apa-apa,” ujarnya.
Menariknya, meski tidak diwajibkan membayar, warga tetap menunjukkan kepedulian. Sebagian memberikan uang secara sukarela, mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000. Uang tersebut kemudian membantu biaya perawatan dan operasional depot.
“Tidak disuruh mengisi pun masyarakat ini ada antusias. Ada yang isi Rp2 ribu, ada yang isi Rp5 ribu,” kata Joko.
Ia memastikan depot tetap dirawat agar air yang digunakan warga terjaga kebersihannya. Setiap sekitar dua pekan, peralatan dibersihkan dan saringan dikontrol secara berkala.
Biaya operasionalnya pun relatif kecil. Menurut Joko, kebutuhan operasional sehari-hari hanya sekitar Rp3.000. Dengan biaya tersebut, depot bisa membantu memenuhi kebutuhan air minum warga setiap hari.
Berawal dari Anak Petani
Kepedulian Joko terhadap kehidupan petani sebenarnya tumbuh sejak kecil. Ia lahir dari keluarga petani dan sejak kecil sudah melihat bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan di sawah.
“Kalau dikatakan menjadi petani kapan, sebenarnya kami lahir jadi anak petani. Jadi kami jadi petani ini mulai lahir,” tuturnya.
Setiap pagi, ia melihat sang ayah berangkat ke sawah. Panas, kotor, dan beratnya pekerjaan di lahan menjadi pemandangan yang akrab dalam kehidupan Joko.
Namun, menjadi ketua kelompok tani bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan.
Pada 2006, Joko menghadiri sebuah pertemuan yang membahas pembentukan kelompok tani.
Tanpa banyak persiapan, ia justru terpilih menjadi ketua. Saat itu, ia mengaku belum memahami apa yang harus dilakukan seorang ketua kelompok tani.
“Yang harus ke mana dan ngomong apa ini tidak ngerti,” kenangnya.
Dari situlah Joko mulai belajar. Ia mencari informasi, memahami bagaimana kelompok tani bekerja, dan perlahan membangun pengetahuan bersama para anggotanya.
Dua dekade kemudian, pengalaman itu membawanya menjadi petani progresif yang mampu mengembangkan cara bertani dengan dukungan teknologi.
Di bawah kepemimpinannya, Poktan Sri Makmur mampu mendorong produktivitas hingga sekitar 9 ton gabah per hektare dan memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Pupuk Lebih Terjangkau, Petani Lebih Ringan
Menurut Joko, salah satu persoalan yang dulu cukup membebani petani adalah ketersediaan dan harga pupuk. Ia melihat sendiri bagaimana petani yang memiliki keterbatasan modal kesulitan mendapatkan pupuk.
“Sudah bertani itu berat, memikirkan pupuknya jadi semakin berat saja,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong Joko mengajukan izin agar dapat menjadi kios pupuk resmi. Harapannya, petani di sekitarnya bisa memperoleh pupuk dengan lebih mudah dan harga yang terjangkau.
Ia pun merasakan langsung perbedaan harga antara pupuk bersubsidi dan nonsubsidi.
“Kalau kita beli non-subsidi itu harganya bisa tembus sampai Rp400 ribu. Kalau kita beli subsidi Rp90 ribu, itu betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan nonsubsidi,” kata Joko.
Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap petani kini semakin terasa di tingkat lapangan. Selain pupuk bersubsidi dengan harga yang lebih terjangkau, petani juga mendapatkan kemudahan lain, termasuk dukungan alat-alat berat yang membantu mempercepat proses tanam.
“Harapan pemerintah hari ini support yang ada, alhamdulillah telah sampai kepada kami. Pupuknya mudah, harga gabahnya ditentukan. Petani dipermudah dengan bantuan alat-alat berat yang ini sangat membantu daripada percepatan tanam di kami,” ujarnya.
Bagi Joko, kebijakan yang meringankan biaya produksi bukan hanya soal angka di atas kertas.
Bagi petani di desa, selisih biaya pupuk dapat menentukan seberapa besar modal yang masih tersisa untuk mengelola sawah.
Dan dari efisiensi itulah, sebuah manfaat lain bisa lahir.
Sebagian hasil usaha kios pupuk dikumpulkan bersama hingga akhirnya menjadi depot air minum yang kini digunakan warga Purwosari. Sebuah lingkaran sederhana yang mempertemukan usaha, pertanian, dan kepedulian sosial.
Bagi Joko, keberhasilan petani tidak cukup hanya diukur dari banyaknya hasil panen. Ketika hasil usaha bisa kembali dirasakan masyarakat, di situlah manfaatnya menjadi lebih luas.
“Seharianya bisa membantu warga untuk air, minum, kebutuhan setiap hari, insyaallah,” pungkas Joko.
Perlu diketahui, Joko Purnomo menjadi salah satu penerima manfaat Program Pupuk Bersubsidi dari pemerintah. Ia juga menjadi sosok yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR.





