SEMSITV.COM – Bagi Joko Purnomo, bertani bukan sekadar pekerjaan. Ia tumbuh dari keluarga petani dan sejak kecil akrab dengan sawah, panas matahari, lumpur, serta segala tantangan yang harus dihadapi para petani.
Kini, setelah sekitar 20 tahun menekuni pertanian padi, Joko justru menjadi salah satu petani yang mendorong perubahan di lingkungannya.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur, Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu membuktikan bahwa bertani bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan ketika dikelola dengan cara yang lebih modern.
Perjalanan tersebut tentu tidak datang begitu saja. Ada masa ketika Joko harus memulai dengan keterbatasan modal. Bahkan, untuk memiliki hand traktor, ia mengaku harus berutang dan menggadaikan BPKB kendaraan.
“Bagaimana waktu itu saya hand traktor ngutang dulu. Mesti gadaikan BPKB untuk bayar hand traktor walaupun itu bekas,” kata Joko, saat wawancara dengan Bakom RI, ditulis Jumat (14/8).
Perlahan, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Joko mulai memanfaatkan teknologi pertanian untuk membuat proses budidaya menjadi lebih cepat dan efisien.
Salah satunya melalui metode dapog untuk persemaian padi. Dengan sistem ini, persemaian dapat dilakukan di halaman atau pekarangan menggunakan kotak pembibitan sehingga tidak membutuhkan lahan luas.
Ia juga memanfaatkan sumur submersible untuk mendukung kebutuhan air di lahan. Penggunaan teknologi dan peralatan pertanian membuat pekerjaan yang dahulu menghabiskan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Joko mencontohkan, penggunaan rotavator berukuran besar membuat pengolahan lahan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama menjadi jauh lebih singkat. Begitu pula saat panen.
Jika dahulu memanen satu hektare bisa membutuhkan waktu hingga empat hari, kini dengan mesin combine harvester pekerjaan tersebut dapat selesai dalam hitungan jam.
“Kalau dulu panen satu hektare bisa empat hari, sekarang tinggal dua jam selesai,” ujarnya.
Efisiensi itu kemudian berdampak pada hasil. Dengan pengelolaan lahan yang lebih baik, Joko mampu mendorong produktivitas hingga sekitar 9 ton per hektare dan melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Keberhasilan tersebut tidak berhenti di lahannya sendiri.
Perubahan yang dirasakan petani juga terlihat dari sisi biaya produksi. Menurut Joko, dukungan pemerintah melalui pupuk bersubsidi turut membantu petani mengurangi beban modal, terutama bagi mereka yang sebelumnya kesulitan menyediakan biaya untuk membeli sarana produksi.
Ia mengatakan, perbedaan harga pupuk subsidi dan nonsubsidi sangat terasa bagi petani. Ketika pupuk nonsubsidi bisa mencapai sekitar Rp400 ribu per kg, pupuk subsidi menurutnya berada di kisaran Rp90 ribu per kg.
“Itu betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan non-subsidi,” ucapnya.
Hal itulah yang dirasakan Suwandi, anggota Poktan Sri Makmur. Ia masih mengingat bagaimana beratnya kehidupan petani ketika sebagian besar pekerjaan dilakukan secara manual.
Suwandi juga merasakan manfaat dari pupuk bersubsidi yang harganya kini lebih terjangkau. Menurutnya, dukungan tersebut membuat petani lebih terbantu dalam menjalankan usaha tani.
“Dari pemerintahan pupuk sudah disubsidi. Harga pupuk subsidi pun sekarang turun. Walau dulu soal pupuk itu minta ampun sulitnya,” ceritanya.
Suwandi juga menceritakan, dengan berbagai kemajuan di sektor pertanian, ditambah dengan harga pupuk yang terjangkau, kini dirinya makin sejahtera.
“Kalau zaman dulu, istilahnya petani itu untuk makan cukup berdua sudah bersyukur. Kalau sekarang itu hasilnya melimpah, bisa punya tabungan,” ucapnya penuh haru.
Perubahan itu menjadi gambaran bagaimana pertanian di tingkat desa terus bergerak. Dari pekerjaan yang dahulu identik dengan lumpur, cangkul, dan tenaga yang terkuras, kini petani mulai memanfaatkan mesin, teknologi, serta dukungan kebijakan untuk meningkatkan produktivitas.
“Bangga menjadi petani, bukan lemah menjadi tani. Bangga menjadi petani,” pungkas Joko Purnomo.
Perlu diketahui, Joko Purnomo menjadi salah satu penerima manfaat Program Pupuk Bersubsidi dari pemerintah. Ia juga menjadi sosok yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR.





