SEMSITV.COM – Pagi bagi Kristina Beno, siswi SMPN IV Muting, Merauke, Papua Selatan, tak pernah dimulai dengan santai. Sebelum berangkat sekolah, ia harus lebih dulu membantu kakaknya mengambil air dari sumur galian untuk kebutuhan mandi dan mencuci piring. Setelah semua tuntas, barulah ia bersiap menuju sekolah bersama sang kakak.
Satu hal yang sering tidak tersedia sebelum ia berangkat adalah sarapan. “Sebelum mendapat MBG itu, dari rumah itu tidak sarapan. Terus sampai di sekolah itu mengantuk juga karena tidak makan,” katanya.
Perut kosong punya cara sendiri membebani pelajaran. Saat guru meminta murid mencatat, kantuk sering datang lebih dulu. “Jadi sebelum mendapat MBG itu kalau guru suruh catat itu sering lelet karena ngantuk. Kalau sudah ada MBG itu semangat karena tahu nanti memakan MBG jadi catatnya dipercepat,” jelas Kristina.
Situasi berubah sejak ada MBG. Langkah menuju sekolah terasa lebih ringan, karena ada yang dinantikan di ujung perjalanan. Bahkan suasana di kelas pun ikut berubah. Bangku yang biasanya lengang, kini lebih ramai terisi.
“MBG itu memberi motivasi untuk semangat belajar. Kadang kalau di dalam kelas itu cuma 7 orang, 5 orang. Kalau sudah MBG itu bisa 20. Terima kasih banyak Bapak Presiden Bapak Prabowo atas MBG-nya,” ucap Kristina.
Tidak jauh dari sekolah Kristina, cerita serupa juga dialami Jasper, siswa SD Muting 9. Bedanya, bagi Jasper, rasa lapar pernah membuat tubuhnya benar-benar tidak sanggup bertahan. Ia pernah pingsan saat mengikuti upacara bendera di sekolah. Penyebabnya sederhana: lapar karena sejak pagi tanpa makan, ditambah panas matahari begitu membakar.
“Saya pingsan itu karena sudah lapar, terus panas matahari, baru kita upacara itu lama,” akunya polos.
Bagi Jasper dan adiknya, berangkat sekolah tanpa membawa bekal makanan sudah jadi hal biasa. Lapar bukan sekadar rasa tidak nyaman, tapi kadang-kadang membuat tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi bertahan.
Namun sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah, satu kalimat sederhana terlontar dari mulutnya. Kalimat yang mungkin terdengar remeh bagi anak-anak lain, tapi begitu berarti baginya. “Pas ada MBG itu, saya sudah kenyang, tidak lapar-lapar lagi,” ujarnya mantap.
Karena itu pula, harapan Jasper sederhana. Ingin agar program makan gratis di sekolah itu jangan sampai berhenti. “Saya dan adik biasa ke sekolah tidak bawa makan, jadi saya rasa MBG tidak bisa dihentikan,” tegasnya.
Dengan bahasa polosnya, Jasper pun menitipkan ucapan terima kasihnya untuk Presiden Prabowo Subianto.
“Saya mau bilang terima kasih banyak untuk Bapak Presiden, karena Bapak Presiden su kasi MBG, jadi anak-anak murid tidak malas-malas sekolah. Sekarang anak-anak murid sudah rajin, jadi saya mau bilang terima kasih untuk Bapak Presiden,” ujarnya.
Bagi Jasper dan Kristina di Muting, Merauke, Papua Selatan, satu porsi MBG bukan sekadar mengisi perut, tapi alasan mereka untuk datang ke sekolah, tetap terjaga di kelas, dan semangat belajar setiap hari.





