Dorong Konsumsi Susu Nasional, LamiPak Gelar Lomba Karya Tulis untuk Jurnalis

oleh
oleh

Serang, Banten — PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), produsen kemasan aseptik terkemuka, resmi menyosialisasikan penyelenggaraan Anugerah Jurnalistik LamiPak (AJL) 2026. Ajang ini mengusung tema “Satu Kotak Susu, Sejuta Harapan: Mengawal Ketahanan Gizi Menuju Indonesia Emas 2045”, sebagai ajakan kepada insan pers untuk turut mengawal kebijakan pemenuhan gizi nasional.

Salah satu fokus utama AJL 2026 adalah mendorong integrasi program susu gratis dalam skema Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah. Periode penulisan karya jurnalistik dibuka mulai 28 Januari hingga 27 Februari 2026.

AJL 2026 akan dinilai oleh jajaran juri yang memiliki rekam jejak dan integritas tinggi di bidang jurnalistik dan komunikasi, yakni Alexander Sudrajat (detik.com), Jajang Dirajanegara (iNews TV), Ujang Sunda (Rakyat Merdeka), serta Yoki Yusanto, praktisi komunikasi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

“Kompetisi ini terbuka bagi jurnalis media cetak, online, dan televisi, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah,” ujar Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, di sela Konferensi Pers Anugerah Jurnalistik LamiPak 2026 di HO LamiPak Indonesia, Cikande, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (20/1/2026).

Rizalmi menjelaskan, ajang ini tidak hanya menjadi wadah apresiasi karya jurnalistik, tetapi juga sarana edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi susu. Pasalnya, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu nasional saat ini baru mencapai sekitar 16,3 kilogram per kapita per tahun, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand (33 kg), Malaysia (50,9 kg), bahkan Singapura yang angkanya jauh lebih tinggi.

Managing Director PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, menegaskan bahwa rendahnya konsumsi susu dapat menjadi hambatan serius bagi ambisi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Baca Berita lainnya :  Presiden Prabowo Subianto Terima Kunjungan Menteri Keamanan Negara Tiongkok di Istana Negara

“Kami mendukung program susu gratis dalam Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda. Melalui AJL 2026, kami ingin jurnalis menjadi jembatan informasi untuk mengawal kebijakan ini agar tepat sasaran,” kata Hongbiao Li.

Ia menambahkan, selain ketersediaan produk, tantangan utama program susu nasional terletak pada aspek distribusi dan penjagaan kualitas nutrisi hingga sampai ke tangan anak-anak di seluruh pelosok Nusantara. Dalam konteks ini, teknologi kemasan menjadi faktor kunci.

Menurut Ahmad Rizalmi, LamiPak Indonesia berkomitmen menyediakan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi yang mampu menjaga sterilitas susu tanpa penggunaan bahan pengawet.

“Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan logistik yang besar, baik dari sisi suhu maupun waktu distribusi. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis, sehingga nutrisi susu tetap terjaga meski didistribusikan ke daerah terpencil tanpa rantai dingin,” jelasnya.

Ia menegaskan, tujuan utama AJL 2026 adalah mendorong diskursus publik yang informatif dan berimbang terkait isu gizi, distribusi susu, serta peran teknologi pengemasan dalam pemerataan akses nutrisi.

“Kami berharap karya jurnalistik yang lahir dari ajang ini dapat membangun narasi publik yang konstruktif dan berdampak positif bagi pencapaian Indonesia Emas 2045, sekaligus memfasilitasi kolaborasi antara industri, akademisi, asosiasi, dan media,” tambahnya.

Tantangan distribusi susu semakin relevan dalam implementasi Program MBG, mengingat keterbatasan infrastruktur rantai dingin di sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi kendala utama. Kondisi ini kerap menyebabkan penurunan mutu produk dan ketimpangan akses pangan bergizi, khususnya di daerah terpencil dan tertinggal.

Kemasan aseptik dinilai sebagai solusi praktis karena memungkinkan distribusi susu tanpa pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi. Teknologi ini juga berperan penting dalam memperluas jangkauan distribusi susu ke wilayah-wilayah terpencil.

Baca Berita lainnya :  Siswa SMKN 19 Jakarta Dapat Pengalaman Langsung Mengenal Kerja Pemerintahan di Istana

Hingga beberapa tahun terakhir, kebutuhan kemasan aseptik nasional masih banyak bergantung pada impor. Dimulainya produksi kemasan aseptik dalam negeri sejak 2024 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian industri, efisiensi rantai pasok, serta ketahanan pangan jangka panjang.

Relevansi isu ini kian menguat menjelang bulan Ramadan, ketika perhatian masyarakat terhadap pola konsumsi dan pemenuhan gizi meningkat. Susu dinilai memiliki peran strategis sebagai sumber nutrisi saat sahur untuk menjaga energi dan kesehatan selama berpuasa.

“Ketersediaan susu yang aman dan berkualitas pada periode ini semakin menegaskan pentingnya sistem distribusi dan pengemasan yang andal,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.