Siaran Pers: Sumatera Utara Perkuat Integrasi Transportasi untuk Mobilitas yang Aman, Nyaman, dan Berkelanjutan

oleh
oleh

SEMSITV — Mobilitas masyarakat merupakan fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Di Provinsi Sumatera Utara, meningkatnya aktivitas perdagangan, pariwisata, hingga konektivitas antarkawasan menuntut tersedianya sistem transportasi yang tidak hanya mampu mengakomodasi pergerakan masyarakat, tetapi juga aman, nyaman, efisien, dan berkelanjutan. Sejalan dengan Strategi Komunikasi Mobilitas Nasional Kementerian Perhubungan, pembangunan transportasi kini tidak lagi hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar beralih ke transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan terintegrasi.

Bicara tentang peralihan moda pribadi ke moda publik selalu menarik untuk menjadi pembahasan, pasalnya penggunaan kendaraan pribadi yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia, dalam hal ini di Kota Medan sebagai pusat aktivitas ekonomi, mobilitasnya yg masih didominasi kendaraan pribadi dibandingkan penggunaan angkutan umum. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Medan bersama Kementerian Perhubungan mengembangkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) berbasis bus listrik. Saat ini tersedia 60 unit bus listrik, dengan 55 unit beroperasi di lima koridor utama, yaitu Amplas–Pinang Baris, J City–Plaza Medan Fair, Belawan–Lapangan Merdeka, Tuntungan–Lapangan Merdeka, dan Tembung–Lapangan Merdeka.

Saat melakukan liputan langsung di sejumlah koridor BRT Medan, tim kami melihat bagaimana transportasi publik mulai menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat, terlebih saat masa libur sekolah. Halte yang tertata, armada bus listrik yang beroperasi secara rutin, serta sistem pembayaran non-tunai menunjukkan perubahan nyata wajah transportasi perkotaan. Antusiasme masyarakat yang memanfaatkan layanan tersebut memberikan optimisme bahwa transformasi menuju transportasi publik yang modern mulai berjalan ke arah yang positif.

Pengembangan BRT juga didukung dengan integrasi antarmoda, digitalisasi pembayaran, peningkatan fasilitas halte, dan penyediaan layanan yang inklusif. Upaya ini mendapat respons positif dari masyarakat. Sepanjang tahun 2025, jumlah pengguna bus listrik mencapai lebih dari 2,7 juta penumpang, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik.

Baca Berita lainnya :  Presiden Prabowo Tegaskan Penurunan Biaya Haji 2026 dan Evaluasi Tambang di Kawasan Hutan

Perwakilan Dinas Perhubungan Kota Medan mengatakan, “Peningkatan jumlah penumpang setiap tahunnya menjadi indikator bahwa masyarakat mulai mempercayai transportasi publik sebagai pilihan mobilitas sehari-hari. Maka dari itu kami terus memperkuat integrasi layanan, meningkatkan kualitas halte, serta memperluas kemudahan pembayaran digital agar semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.”

Sektor transportasi darat juga terlihat di Terminal Tipe A Amplas yang telah direvitalisasi menjadi simpul transportasi berbasis konsep Transit Oriented Development (TOD). Saat mengunjungi terminal tersebut, tim kami mendapati perubahan yang cukup signifikan. Terminal kini tidak lagi sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi berkembang menjadi ruang pelayanan publik yang lebih nyaman dengan area UMKM, ruang tunggu yang tertata, integrasi antarmoda, serta media informasi digital. Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, Terminal Amplas telah melayani lebih dari 540 ribu penumpang keberangkatan, menjadikannya salah satu simpul transportasi darat terpenting di Sumatera Utara.

Perwakilan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sumatera Utara menegaskan, “Terminal bukan lagi sekadar tempat naik dan turun penumpang, tetapi menjadi simpul transportasi yang nyaman, aman, dan terintegrasi dengan berbagai moda. Karena itu kami terus melakukan digitalisasi layanan, peningkatan fasilitas, serta pembinaan keselamatan angkutan umum agar masyarakat semakin percaya menggunakan transportasi publik.”

Konektivitas kawasan metropolitan Mebidangro (Medan, Binjai, dan Deli Serdang) turut diperkuat melalui layanan DAMRI. Saat ini DAMRI mengoperasikan 38 armada yang melayani angkutan pemadu moda menuju Bandara Internasional Kualanamu, layanan perintis ke sejumlah wilayah, serta konektivitas penumpang kapal PELNI di Pelabuhan Belawan. Integrasi layanan tersebut mempermudah perpindahan antarmoda sekaligus memperluas akses menuju kawasan strategis ekonomi dan pelayanan publik, termasuk wilayah-wilayah terpencil melalui layanan perintis.

Baca Berita lainnya :  Menhub Dudy Resmikan Stasiun Jatake, Dukung Mobilitas Perkotaan

Di sektor perkeretaapian, Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Medan terus mengembangkan jaringan yang terhubung dengan Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung guna meningkatkan efisiensi distribusi logistik dan mengurangi proses double handling barang. Pengembangan koridor komuter Medan–Binjai, pembangunan stasiun baru di Helvetia dan Sunggal, serta peningkatan integrasi dengan angkutan umum diharapkan semakin mendorong masyarakat menggunakan transportasi massal. Di sisi lain, sektor ini masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan sarana, tingginya kasus vandalisme terhadap prasarana, serta perlunya dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang.

Beralih ke sektor transportasi udara yang juga memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas wilayah Sumatera Utara, terutama bagi daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Otoritas Bandar Udara Wilayah II Kualanamu berperan melakukan pembinaan, pengawasan, dan koordinasi penyelenggaraan transportasi udara agar layanan penerbangan berjalan aman sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah II Kualanamu menyampaikan, “Transportasi udara bukan hanya melayani mobilitas penumpang, tetapi juga mempercepat distribusi komoditas unggulan daerah. Melalui pengawasan keselamatan dan penguatan konektivitas, kami berupaya memastikan penerbangan mampu mendukung perdagangan, pariwisata, dan investasi di Sumatera Utara.”

Peran transportasi udara semakin penting dalam mendukung distribusi komoditas unggulan, seperti kopi Aceh yang telah dikenal di pasar internasional dan menjadi salah satu bahan baku jaringan kedai kopi global, serta alpukat mentega yang memiliki potensi besar untuk dipasarkan ke berbagai daerah maupun pasar ekspor. Distribusi melalui jalur udara memungkinkan kualitas produk tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.

Menurut Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah II Kualanamu, “Komoditas bernilai tinggi seperti kopi dan alpukat mentega memerlukan distribusi yang cepat agar kualitasnya tetap terjaga. Transportasi udara menjadi salah satu faktor penting yang mendukung daya saing produk Indonesia di pasar nasional maupun internasional.”

Baca Berita lainnya :  Trump Ancam Tarik Pasukan AS dari Eropa, Sekutu NATO Mulai Tegang

Selain mendukung distribusi logistik, layanan penerbangan perintis juga menjadi instrumen pemerataan akses transportasi. Sejumlah rute perintis dioperasikan dua kali dalam seminggu sesuai kebutuhan masyarakat, sementara rute Mandailing Natal (Madina)–Sibisa telah dilayani setiap hari untuk mendukung konektivitas menuju kawasan strategis nasional Danau Toba. Kehadiran layanan ini membuka akses masyarakat terhadap pusat pelayanan, pendidikan, kesehatan, sekaligus memperkuat sektor pariwisata dan investasi.

Rangkaian kunjungan lapangan ke berbagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Perhubungan dan simpul-simpul transportasi di Sumatera Utara memberikan gambaran bahwa transformasi transportasi tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur. Kolaborasi antarlembaga, inovasi pelayanan, digitalisasi, serta komitmen para petugas di lapangan menjadi faktor penting dalam menghadirkan sistem transportasi yang semakin terintegrasi.

Melalui berbagai upaya tersebut, mulai dari pengembangan BRT listrik, revitalisasi terminal, penguatan layanan DAMRI, pembangunan jaringan perkeretaapian, hingga peningkatan konektivitas udara, Sumatera Utara terus bergerak menuju sistem mobilitas yang lebih aman, nyaman, efisien, dan berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi publik.

No More Posts Available.

No more pages to load.