Blokade Selat Hormuz oleh Iran Lumpuhkan Perdagangan Global di Luar Minyak dan Gas

oleh
oleh

DOHA — Berdasarkan ringkasan laporan Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL), penutupan Selat Hormuz oleh Iran kini menyebabkan gangguan besar pada perdagangan dunia. Bukan hanya pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang tersendat, tetapi juga pengiriman berbagai komoditas penting lainnya yang menjadi fondasi industri global.

Ketegangan meningkat ketika sebuah kapal tanker India yang mengangkut gas petroleum cair (LPG) berhasil menembus Selat Hormuz dan langsung mendapat pengawalan militer. Media India bahkan menayangkan siaran langsung yang mengikuti setiap pergerakan kapal, menggambarkan betapa sensitifnya rute perairan tersebut di tengah konflik.

Blokade yang dipicu perang dengan Iran telah membuat pasar energi terguncang. Para analis memperkirakan kondisi tidak akan segera normal sekalipun perang usai, mengingat kerusakan infrastruktur industri di kawasan Teluk dan sikap Iran yang tetap menegaskan “hak kedaulatan” atas Selat Hormuz.

LPG Jadi Komoditas Paling Terdampak, India dan China Tertekan

Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA), LPG merupakan komoditas yang paling terdampak dari penutupan Selat Hormuz. India—yang mengimpor sekitar 90 persen LPG dari Timur Tengah—mengalami kelangkaan besar, membuat jutaan rumah tangga kembali memakai kayu bakar, batu bara, hingga kotoran sapi untuk kebutuhan memasak.

China, importir LPG terbesar kedua melalui Selat Hormuz, juga menghadapi dampak signifikan. Harga LPG domestik di China melonjak ke level tertinggi dalam 12 tahun, memukul industri petrokimia serta konsumsi rumah tangga. RFE/RL mengutip analisis yang menyebut China berada dalam kondisi “sangat rentan” akibat krisis pasokan global LPG.

Eksportir LPG lain seperti Kanada, Argentina, dan Rusia juga belum dapat menutup kekurangan global setelah sanksi Uni Eropa menghambat penjualan Rusia ke pasar Barat.

Baca Berita lainnya :  LAZISKU Salurkan Bantuan THR dan Bingkisan Lebaran untuk Guru Honorer dan Guru Ngaji di Semarang

Imbas Serius pada Pupuk: Ancaman Krisis Pangan Global

Gangguan juga merembet ke rantai pasok pupuk global. Kawasan Teluk merupakan pemasok utama pupuk dunia, dan Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan risiko lonjakan harga pangan akibat masalah pasokan pupuk.

Sekitar 30 persen perdagangan pupuk global melewati Selat Hormuz. Data Windward, perusahaan intelijen maritim, menunjukkan 86 persen kapal pengangkut pupuk dari Teluk ke Afrika Timur sudah berhenti beroperasi.

Analisis ING memperkirakan kenaikan harga pupuk akan menekan produksi gandum dan jagung dunia. Kebergantungan Asia dan Afrika terhadap pupuk impor membuat kedua kawasan rentan menghadapi penurunan hasil panen dan meningkatnya ancaman kelaparan.

Sulfur—komponen utama pupuk fosfat—juga terganggu. Setengah suplai sulfur dunia melewati Selat Hormuz, menambah tekanan pada produksi pupuk global.

Pasokan Aluminium Terhantam, Harga Global Naik

Serangan Iran terhadap smelter aluminium utama di Uni Emirat Arab dan Bahrain memperburuk krisis pasokan. Aluminium merupakan bahan penting untuk industri otomotif, manufaktur, dan kemasan.

Amerika Serikat mengimpor lebih dari 20 persen aluminium dari kawasan Teluk, sementara produsen Teluk menyumbang hampir 10 persen pasokan global. RFE/RL mengutip analisis pasar yang menyebut gangguan suplai aluminium Teluk “sulit digantikan” dan berisiko menimbulkan kekurangan berkepanjangan.

Harga aluminium global telah naik sekitar 11 persen sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, mencapai level tertinggi sejak pecahnya perang Ukraina pada 2022.

Helium Terancam Krisis Panjang

Qatar, produsen sekitar sepertiga helium dunia, kini menghadapi potensi krisis jangka panjang setelah fasilitas LNG yang juga memproduksi helium rusak akibat serangan Iran. Pemulihan fasilitas dapat memerlukan waktu hingga lima tahun.

Helium merupakan bahan vital dalam industri teknologi, terutama untuk pendinginan semikonduktor dan mesin MRI. Meski stok jangka pendek di negara-negara Asia masih aman, potensi kekurangan global tetap membayangi.

Baca Berita lainnya :  Kerja Sama RI–Korsel Menguat, Kunjungan Presiden Prabowo Hasilkan Investasi Rp173 Triliun

Dampak Menjalar ke Komoditas Industri Lain

Selain LPG, pupuk, aluminium, dan helium, komoditas lain seperti naphta, bahan bakar pesawat, serta pelet bijih besi juga terdampak. Semua ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz bukan hanya jalur energi, tetapi pusat perdagangan global lintas sektor.

Selama blokade berlangsung, risiko gangguan pasokan global diperkirakan tidak akan mereda.

No More Posts Available.

No more pages to load.