PANDEGLANG — Gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon mendapat perhatian khusus dari Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah. Ia menyampaikan duka mendalam dan mendoakan para prajurit sebagai syuhada penjaga perdamaian.
Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, menyampaikan rasa duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda saat menjalankan tugas misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dimyati mendoakan para prajurit sebagai syuhada yang berjuang demi kebenaran dan perdamaian global.
“Turut berduka cita dan merasa sedih. Itu adalah perjuangan. Mudah-mudahan almarhum diterima Allah SWT dan mereka mati syahid karena berjuang membela kebenaran dan perdamaian internasional,” ujar Dimyati usai menghadiri Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-152 Kabupaten Pandeglang di Gedung DPRD Pandeglang, Rabu (1/4/2026).
Ia menegaskan bahwa pengabdian para prajurit tersebut bukan sekadar menjalankan tugas negara, tetapi juga misi kemanusiaan yang sangat mulia. “Kami turut berduka kepada keluarga almarhum. Semoga diberikan kekuatan lahir dan batin. Pemprov Banten menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya,” katanya.
Tiga prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Mereka bertugas menjaga stabilitas dan melindungi warga sipil di wilayah konflik Lebanon Selatan. Insiden tragis terjadi dalam dua peristiwa pada 29 dan 30 Maret 2026: serangan artileri yang menghantam markas UNIFIL serta ledakan saat pengawalan konvoi logistik di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Anggota Komisi I DPR RI, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, juga menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa pasukan Indonesia hadir sebagai penjaga perdamaian, bukan kekuatan tempur.
“Mereka bertugas jauh dari tanah air, bukan untuk berperang atau menyerang siapa pun. Pasukan perdamaian Indonesia hadir untuk memastikan tidak ada lagi korban sipil akibat konflik bersenjata,” ujarnya.
Ia menyebut serangan terhadap peacekeepers sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan Piagam PBB. Rizki meminta investigasi komprehensif agar insiden tersebut terungkap secara tuntas dan transparan.
“Penghargaan tertinggi kita berikan kepada prajurit-prajurit kita. Semoga yang gugur diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” katanya.





